
Melaksanakan tawaf di depan Ka’bah adalah momen yang sangat sakral. Namun, di tengah kepadatan jamaah dan kekhusyukan doa, tak jarang pikiran kita teralihkan hingga muncul pertanyaan yang membingungkan: “Tadi saya sudah putaran ketiga atau keempat, ya?”
Sobat Rehlata yang dimuliakan Allah, keraguan dalam hitungan tawaf adalah hal yang manusiawi. Untuk menjawab kegelisahan ini, mari kita merujuk pada panduan para ulama yang bersumber dari kitab-kitab muktabar.
1. Bagi yang Lupa (Kondisi Normal)
Jika Anda lupa jumlah putaran secara tidak sengaja dan bukan karena kebiasaan was-was, Al-Imam Ibnu Munzir dalam kitab Al-Isyraf dan Al-Ijma’ memberikan kaidah yang jelas: Ambillah jumlah yang paling yakin (paling sedikit).
Contoh: Jika Anda ragu apakah sudah 3 atau 4 putaran, maka tetapkanlah hati pada angka 3 putaran. Prinsip ini diambil karena angka 3 adalah jumlah yang sudah pasti terlewati, sementara angka 4 masih diragukan.
2. Bagi Penderita Penyakit Was-was
Kondisi ini berbeda bagi mereka yang memiliki penyakit was-was (keraguan yang berlebihan dan terjadi terus-menerus di setiap ibadah). Jika setiap kali tawaf atau salat selalu merasa ragu, maka solusinya adalah mengambil jumlah yang terbanyak.
Jika penderita was-was ragu antara 3 atau 4 putaran, maka ia langsung mengambil angka 4 putaran. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai keraguan dan mencegah gangguan pikiran yang lebih berat selama ibadah.
3. Mengikuti Pendapat Orang yang Dipercaya
Ada solusi ketiga yang bisa kita ambil jika kita tidak sedang sendirian. Jika ada teman atau pendamping ibadah yang kita percayai kebenaran hitungannya, kita diperbolehkan untuk mengikuti pendapatnya.
Pendapat ini didukung oleh para ulama besar seperti:
- Al-Allamah Al-Khorosyi dalam Syarah Mukhtashar Khalil.
- Syekh Al-Adawi dalam Hasyiyah ‘ala Kifayati Thalib Ar-Rabbani.
- Syekh Al-Imam Ad-Dardir dalam kitab Syarah Al-Kabir.
Ibadah di Tanah Suci memerlukan ketenangan hati. Dengan memahami hukum-hukum di atas, kita tidak perlu lagi panik saat keraguan datang melanda. Cukup tentukan posisi kondisi Anda, ambil keputusan sesuai kaidah fikih, dan lanjutkan ibadah dengan penuh keyakinan.
Semoga Allah SWT memberikan kita nikmat untuk bisa beribadah di Tanah Suci dengan sempurna dan mabrur. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

