
Bagi umat Islam, melaksanakan salat sunah dua rakaat Tahiyyatul Masjid adalah adab yang dianjurkan ketika memasuki sebuah masjid.
Amalan ini merupakan bentuk penghormatan kepada “rumah Allah” sebelum kita duduk atau melakukan aktivitas lainnya. Namun, tahukah Anda bahwa adab ini memiliki bentuk yang berbeda ketika kita berada di masjid paling mulia di muka bumi, Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah?
Tawaf Qudum Sebagai Pengganti Salat Tahiyyatul Masjid
Menurut kesepakatan para ulama dari empat mazhab fikih, penghormatan atau tahiyyah bagi Masjidil Haram bukanlah salat sunah dua rakaat, melainkan ibadah tawaf. Tawaf inilah yang dikenal dengan sebutan Tawaf Qudum atau tawaf kedatangan.
Oleh karena itu, ketika seorang muslim pertama kali memasuki Masjidil Haram, amalan sunah yang utama untuk dilakukan adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dengan niat sebagai Tawaf Qudum. Ibadah ini menjadi bentuk penghormatan tertinggi kepada Baitullah, yang menjadi pusat dari masjid suci tersebut.
Dasar Hukum dan Praktik Generasi Terbaik
Praktik ini bukanlah hal baru, melainkan telah dicontohkan oleh teladan terbaik umat, Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal yang sama juga dilakukan oleh para sahabat, serta generasi berikutnya seperti Tabiin dan Tabi’ut Tabiin.
Ketentuan ini juga telah dijelaskan secara rinci oleh para ulama besar dalam kitab-kitab mereka yang menjadi rujukan utama umat Islam, di antaranya:
- Al-Imam Ibnu Humam dalam kitabnya, Fathul Qadir.
- Al-Imam Al-Khattab dalam kitabnya, Mawahibul Jalil.
- Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya, Al-Majmu’.
- Al-Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya, Al-Mughni.
Catatan Penting dalam Pelaksanaan
Meskipun sangat dianjurkan, ada hal penting yang harus diperhatikan. Pelaksanaan Tawaf Qudum hendaknya tidak sampai mengganggu atau menyebabkan seseorang ketinggalan ibadah yang hukumnya lebih wajib. Prioritas utama harus tetap diberikan kepada salat fardu. Jangan sampai karena mengejar sunah Tawaf Qudum, kita menjadi terlambat untuk melaksanakan salat fardu berjemaah atau bahkan ketinggalan salat-salat sunah rawatib muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketika kita berada di Masjidil Haram, bentuk Tahiyyatul Masjid kita adalah Tawaf Qudum. Inilah salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Baitullah.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kita nikmat dan kesempatan untuk dapat berkunjung serta melaksanakan ibadah di Baitullah dengan sebaik-baiknya. Sumber

