Jabal Muqattam: Bukit Tandus yang Memeluk Ribuan Kekasih Allah

(Silangan Sejarah, Geopolitik Awal Islam, dan Jejak Para Wali di Kairo)

Oleh: Rubie Hazinoto

Pada suatu kesempatan, kami bersilaturrahmi ke kediaman salah satu ulama senior Al-Azhar, Syekh Muhammad Muhanna di kawasan Bukit Muqattam, Kairo. Dalam pertemuan tersebut, saya menanyakan kepada beliau, mengapa kebanyakan makam para ulama dan auliya di Mesir berada di sekitar Bukit Muqattam? Seperti Sayyidah Nafisah, Sayyidah Aisyah, Imam Syafi’i, Ibnu Athaillah As-Sakandari, Imam Waqi’, Syaikh Zakaria Al-Anshari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan masih banyak ulama besar lainnya, serta para Sahabat Nabi yang mulia seperti Amr bin Ash dan Uqbah bin Amir.

Beliau kemudian menjelaskan sejarah dan keutamaannya.

Mengawali penjelasannya, Syekh Muhanna menuturkan bahwa jauh sebelum Islam menyapa Mesir, lanskap ini memang sudah disakralkan. Komunitas Qibti saat itu menganggap tanah di kaki bukit ini sebagai bagian dari Gharas al-Jannah (Taman Surga), sehingga menjadikannya wilayah pemakaman yang sangat dihormati, sementara rongga-rongga bukitnya kerap dijadikan tempat pengasingan spiritual para rahib.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, secara fisik bukit ini telah memegang peranan krusial yang bersifat material. Pada era Firaun, batu-batu kapur dari bukit ini ditambang dan dipotong secara masif sebagai material utama untuk menyusun kemegahan Piramida Giza. Jejak eksploitasi masa lampau inilah yang kemudian melahirkan nama Muqattam, yang secara bahasa berakar dari kata qa-ta-ma (terpotong atau terbelah).

Namun, transformasi paling radikal dari Jabal Muqattam terjadi pada masa penaklukan Islam di tahun 20 H / 641 M. Sebuah narasi sejarah yang direkam dengan apik oleh sejarawan klasik Ibn ‘Abd al-Hakam dan Al-Maqrizi. Ketika panglima Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu membebaskan Mesir, penguasa Qibti saat itu, Al-Muqauqis, mencoba mempertahankan hak atas bukit suci tersebut dengan tawaran yang fantastis: 70.000 Dinar.

Menyadari ada motif tersembunyi di balik angka yang tidak rasional untuk sebuah tanah bukit, Amr bin Ash menahan diri dari menyetujui tawaran itu. Beliau kemudian menyurati Amirul Mukminin, Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Balasan dari Sang Khalifah menjadi titik balik sejarah spiritualitas Kairo. Umar dengan tegas menolak tawaran tersebut dan menginstruksikan agar kawasan itu dijadikan pemakaman umat Islam. Dari kacamata sejarah, kita bisa melihat kejeniusan Umar tidak sekadar dari sisi eskatologis atau mistis, melainkan geopolitik dan tata ruang yang sangat brilian. Dengan menjadikan bukit gersang sebagai kompleks pemakaman, Umar melindungi lahan subur di sekitar Lembah Nil untuk ketahanan pangan, sekaligus menancapkan “pasak” identitas Islam secara permanen di tanah Mesir melalui makam para Sahabat.

Doa Amr bin Ash yang menyertai peresmian pemakaman tersebut kelak diaminkan oleh sejarah. Ketika para Sahabat dan generasi awal dimakamkan di sana, hukum sosiologis mulai bekerja: muncul efek domino di mana ulama-ulama besar generasi berikutnya saling mewasiatkan agar jenazah mereka disandingkan dengan para pendahulu demi mengharap keberkahan (tabarruk). Konsentrasi tokoh-tokoh saleh inilah yang pada akhirnya melahirkan kawasan Al-Qarafah Al-Kubra yang masyhur hingga hari ini.

Syekh Muhanna juga menyinggung bagaimana tradisi tutur lokal ikut memperkuat keagungan bukit ini. Muncul riwayat alegoris yang mengisahkan bahwa bukit ini dulunya dijanjikan sebagai tempat munajat Nabi Musa AS. Namun hal itu urung terjadi karena Muqattam merasa malu dan menganggap dirinya terlalu rendah ketika Allah menampakkan keagungan-Nya. Sebagai imbalan atas sifat tawadhu’ tersebut, Allah menjadikannya tempat peristirahatan para kekasih-Nya. Meski secara kajian sejarah empiris riwayat ini bernuansa mitologi topografis, narasi ini terbukti sangat sukses secara psikologis dalam menebalkan aura kesucian Muqattam di hati masyarakat.

Penjelasan dari Syekh Muhanna hari itu memahamkan kami pada satu kesimpulan mendalam. Keagungan Jabal Muqattam bukanlah mitos kosong. Ia adalah monumen hidup dari silangan sejarah Firaun, pergeseran teologi spiritual Kristen Koptik, dan kecemerlangan strategi awal Islam yang terus dirawat oleh kecintaan umat kepada para ulamanya. Wallahu A’lam.

Baca Juga:
Pilihan Paket Program Umroh Plus Mesir Rehlata Tour
Peta Ziarah Digital Versi Terbaru Diluncurkan Komunitas Pecinta Ziarah di Mesir