
Nama besar Ummi Kultsum tidak hanya merepresentasikan seorang penyanyi; ia adalah Kawkab al-Sharq (Bintang dari Timur). Sebagai sebuah monumen budaya kebanggaan Mesir, suaranya mampu menyatukan jutaan pendengar hingga jauh ke luar semenanjung Arab. Keagungan karya-karyanya menyimpan daya magis yang sukses menembus batas waktu, generasi, dan geografi.
Di Indonesia, warisan melodi sang legenda tersebut seolah menemukan napas dan medium barunya melalui figur Ummu Salamah, atau yang lebih dikenal luas sebagai Alma Esbeye. Lahir di Jakarta pada 13 Maret 2000, vokalis utama dari grup Esbeye Gambus ini telah mengukuhkan posisinya sebagai penyanyi papan atas nasional. Karakter suaranya yang khas, merdu, dan penuh penghayatan saat membawakan repertoar bernuansa Arab maupun lantunan Islami menjadikannya idola di kalangan pencinta musik tanah air.
Secara brilian, Alma mampu menjadi jembatan penghubung antara keagungan musik klasik Mesir dengan generasi penikmat selawat di Nusantara. Koneksi batin antara karya Ummi Kultsum dan vokal Alma Esbeye ini terajut dengan sempurna ketika Alma bertolak ke Bumi Kinanah. Kunjungan eksklusif pada 3 hingga 6 Juli 2026 ini merupakan bagian dari program unggulan Umroh Plus Mesir yang difasilitasi oleh Rehlata Tour.
Rehlata Tour mengemas perjalanan ini bukan sekadar sebagai pelengkap ibadah, melainkan sebuah tapak tilas spiritual dan kultural yang sarat makna.
Kemeriahan dan Syiar di Atas Sungai Nil

Salah satu momen paling berkesan dari perjalanan ini terwujud dalam agenda istimewa bertajuk “Senandung Nil: Melodi Karya dan Syiar di Bumi Kinanah” pada Ahad, 5 Juli 2026. Di atas kemewahan kapal Nile Cruise yang membelah keeksotisan malam Kairo, kehadiran penyanyi religi nasional Alma Esbeye beserta tim sukses menghadirkan suasana penuh kegembiraan dan antusiasme luar biasa dari para peserta.
Diiringi debur air Sungai Nil, vokal merdu Alma bersanding sempurna dengan alunan Oud yang dimainkan secara brilian oleh Amung. Kelincahan dan kepiawaian Amung dalam memetik Oud menjadi salah satu kunci yang selama ini membuat musik-musik Esbeye terasa begitu hidup dan berkarakter. Harmoni paripurna dari keduanya sukses membius para tamu undangan, seolah membawa imajinasi mereka menembus lorong waktu kejayaan musik Mesir. Kemeriahan yang berpadu dengan kekhidmatan syiar ini menjadi bukti nyata dedikasi Rehlata Tour dalam menghadirkan standar pelayanan prima dalam berkhidmah kepada jamaahnya.
Baca Juga : Program Umroh Plus Mesir Rehlata Tour Periode Agustus – Oktober 2026 Resmi Dibuka | Umroh Plus Mesir Spesial Milad Bintang 5 Harga Hemat | Wajib Tahu! 4 Aturan Baru Jemaah Umroh Pasca-Haji Terkait Sistem dan Aplikasi NUSUK
Menelusuri Akar Sang Legenda

Rehlata Tour kemudian membawa Alma dan tim Esbeye untuk menyelami langsung kehidupan sang inspirator dengan mengunjungi Museum Ummi Kultsum (Kawkab Al-Sharq Museum). Di tempat ini, Alma menyaksikan rekam jejak sejarah, mulai dari gaun-gaun panggung ikonik hingga lembaran lirik tulisan tangan sang legenda.
Melengkapi napak tilas tersebut, destinasi selanjutnya adalah Gawharet El-Fan, institusi dan toko alat musik paling legendaris di Mesir. Di sana, Alma berkesempatan merasakan langsung presisi instrumen-instrumen akustik klasik—seperti oud, qanun, dan darbuka—yang dahulu menjadi fondasi orkestrasi megah Ummi Kultsum.
Resonansi karya sang legenda semakin terasa kental tatkala Alma menghabiskan waktu di Cafe Ummi Kultsum. Di tengah nuansa kafe yang sarat akan memorabilia sejarah tersebut, Alma dan tim Esbeye tampak begitu menikmati suguhan pagelaran musik lokal. Terhanyut dalam kehangatan suasana Kairo, ia bahkan memberikan sebuah persembahan spontan yang memukau dengan melantunkan lagu hit klasik “Ghannily”. Penampilan dadakan tersebut tak pelak disambut dengan gemuruh apresiasi dari para pengunjung yang hadir.
Resonansi Mahabbah di Tepian Mediterania

Beranjak dari gemerlap budaya Kairo, perjalanan Rehlata Tour menukik lebih dalam ke ranah spiritual saat rombongan bertolak menuju pesisir utara Mesir, yakni Alexandria. Di kota bersejarah ini, Alma beserta jamaah berkesempatan melangsungkan ziarah ke makam Imam al-Busiri, tokoh sufi agung pengarang Qasidah Burdah yang termasyhur.
Di hadapan pusara sang mahaguru, Alma mengambil peran memimpin lantunan bait-bait selawat Burdah. Karakter suaranya yang khas dan sarat akan kerinduan kepada Rasulullah SAW seketika memenuhi ruangan, menghanyutkan seluruh jamaah dalam resonansi spiritual yang mendalam. Lantunan syair pujian tersebut membuat suasana ziarah terasa jauh lebih khidmat, syahdu, dan menyentuh relung batin terdalam setiap peserta.
Melukis Karya di Tanah Para Nabi

Lebih dari sekadar napak tilas apresiatif dan spiritual, perjalanan ke Mesir ini juga menjadi momentum produktif bagi sang munsyidah. Di sela-sela agenda ibadah dan eksplorasi, Alma Esbeye memanfaatkan keeksotisan lanskap Mesir untuk menggarap produksi video klip terbarunya.
Menghadirkan konsep medley dari lima mahakarya legendaris Ummi Kultsum—yakni Ba’id ‘Annak, Ana Fi Intizarak, Ghannili, Inta ‘Umri, dan Yamsaharni—proses syuting ini memperkuat kapasitas Rehlata Tour yang tidak hanya unggul dalam mengakomodasi perjalanan ibadah, tetapi juga andal dalam memfasilitasi kebutuhan kreatif berskala profesional. Melalui rangkaian Umroh Plus Mesir yang dikonsep secara matang oleh Rehlata Tour ini, ruh musikal dan spiritual di Bumi Kinanah tidak sekadar dikenang, melainkan dihidupkan kembali dan diabadikan dalam karya baru. Perjalanan Alma Esbeye di Mesir menjadi sebuah simfoni sempurna antara kekhidmatan ibadah, apresiasi seni tingkat tinggi, dan syiar nada yang tak lekang oleh zaman.
Baca Juga : Kapan seseorang wajib melaksanakan ibadah umroh? | Apa yang Bisa Dilakukan Wanita Ketika Haid Saat Umrah? | Pilihan Paket, Jadwal, dan Harga Umroh Plus Mesir Terbaru 2026

